Bedug Pendowo
Pernah dengar daerah yang namanya
Purworejo? Sedikit dari teman – teman saya yang tau daerah yang berada di Jawa
Tengah ini. Ya, itulah kampung halaman dari ibu saya, Purworejo sebuah daerah
di Jawa tengah yang memiliki cerita tersendiri untuk saya dan keluarga. Di
purworejo terdapat sebuah alun – alun yang tepat berada di sebuah masjid. Nama
masjid itu adalah Masjid Agung Darul
Mutaqqin, di masjid ini ada sebuah bedug besar yang bisa dikatakan bedug
terbesar di Indonesia. Setelah saya melihat sepintas dari kejauhan, bedug
tersebut terlihat amatlah besar. Menurut cerita dari ibu saya, kulit bedug
tersebut terbuat dari kulit banteng dan tidak ada sambungannya. Karena rasa
penasaran, akhirnya saya mulai mencari tau bagaimana sejarah bedug besar itu.
Ini
cerita yang saya dapatkan. Nama bedug itu adalah Bedug Pendowo, bedug itu
terletak di Desa Bagelen, Purworejo, Jawa Tengah. Bedug Pendowo dibuat pada
tahun 1762 tahun jawa dan 1834 Masehi. Bedug ini dibuat dengan menggunakan kayu
jati yang bercabang lima. Di buat dengan cara melobangi bongkot (pangkal) kayu
jati bercabang lima yang sangat langka karena usianya yang ratusan tahun.
Bongkot kayu jati tersebut berasal dari dusun Pendowo desa Bragolan
kecamatan Purwodadi, sementara kulitnya adalah berasal dari kulit banteng.
Pembuatan bedug ini merupakan perintah dari seorang Bupati, yaitu Kanjeng Raden Adipati Arya Cokronagoro
I yang diangkat menjadi Bupati oleh pemerintah Hindia - Belanda setelah perang
Diponegoro tahun 1825-1830 dengan seorang Patih (pembantu Bupati) yang bernama
Raden Cokrojoyo.
Kanjeng Raden Adipati Arya Cokronagoro
I memerintahkan Tumenggung Prawironegoro Wedana Bragolan untuk
membantunya dalam perancangan bedug Pendowo tersebut. Tumengung Prawironegoro
Wedana Bragolan adalah adik kandung dari Kanjeng Raden Adipati Arya Cokronegoro
I. Setelah di sepakati akhirnya mulailah pengerjaan pembuatan bedug tersebut di
dusun Pendowo desa Bagelen Kecamatan Purwodadi karena daerah inilah yang
memiliki pohon jati bercabang lima yang telah berusia ratusan tahun. Dengan trampilnya para tukang kayu mengerjakan Bedug
besar itu, digergaji dan dilubanginya bongkot kayu jati tersebut. Setelah
dilubangi dan dihaluskan maka tinggallah ukuran yang sesungguhnya, yaitu
diameter ( garis tengah ) 194 sentimeter pada bagian depan dan bagian belakang
180 sentimeter. Dapat dibayangkan saat pembuatan lubang pada bongkot kayu jati
tersebut, pastinya sangatlah sulit, karena kayunya sangat keras. Bahkan ada
perkiraan pada saat melubangi kayu itu dilakukan dengan membuat bara didalam
kayu itu sendiri, sehingga akan terjadi lubang, kemudian dilanjutkan dengan
dicungkil sedikit demi sedikit sampai akhirnya terbentuk lubang yang sangat
bagus. Yang jelas dalam proses pembuatan bedug itu sendiri, dilaksanakan dengan
hati-hati dan permohonan kepada Allah SWT. Kanjeng Raden Adipati Arya Cokronagoro
I berkeinginan membuat bedug itu sebagai penanda datangnya waktu
sholat. Karena saat itu Kanjeng Raden Adipati Arya Cokronagoro I
memeluk agama Islam dan berkeinginan mensyiarkan agama Islam di daerah itu.
Sementara itu Kanjeng Raden Adipati
Arya Cokronagoro I juga mengawasi proses pembuatan masjid Agung Darul Muttaqin
yang merupakan tanah wakaf seluas 70 x 80 meter persegi. Masjid itu sendiri
memiliki luas yang tak kurang dari 21 x 22 meter persegi. Setelah selesai
dalam pembuatannya, Bedug Pendowo berukuran panjang 292 cm dengan diameter
depan 194 cm dan diameter bagian belakang 180 cm. Untuk ukuran keliling
bagian depan adalah 601 cm dan keliling bagian belakang adalah 564
cm. Bedug Pendowo ini tidak tampak seperti sambungan karena pengerjaan
yang terampil dan benar – benar utuh. Karena bedug Pendowo atau sering
juga disebut Kyai Bagelen oleh orang-orang Purworejo telah selesai pembuatannya
di dusun Pendowo desa Bagelen kecamatan Purwodadi maka oleh Kanjeng
Raden Adipati Arya Cokronagoro I dipindahkan menuju masjid Darul Muttaqin
Purworejo. Pemindahan yang berjarak 9 kilometer. Pada masa itu jarak 9 kilometer adalah cukup jauh,
apalagi jalannya belumlah seperti pada masa kini yang sudah beraspal dan halus.
Pada masa itu, jalan dari Purwodadi sampai ke kota Purworejo masih merupakan
jalan tanah yang belum rata dan bilamana dimusim hujan akan berlumpur,
sedangkan pada musim panas berdebu penuh batu.
Setelah Bupati Raden Adipati Cokronagoro menerima laporan
dari adindanya Wedana Raden Tumenggung Prawironagoro, bahwa Bedug Agung telah
selesai dibuat dan siap untuk segera diangkut ke Purworejo. Dengan jarak tempuh
yang jauh, bedug itu dipindahkan ke Purworejo dengan cara digotong beramai –
ramai dengan diiringi gamelan dan penari tayup. Dapat diperkirakan dalam proses
pemindahan bedug itu memakan waktu 20 hari perjalanan penarikan Bedug Ageng
tersebut. Di Kota Purworejo telah disiapkan penyambutan oleh Kangjeng Raden
Adipati Cokronagoro beserta pembesar-pembesar Kabupaten dan Ulama-ulama,
demikian pula penduduk Kota Purworejo turut mengelu-elukannya. Di depan Gapura Masjid Agung, para penyambut telah siap
siaga menunggu kedatangan Beduk Ageng yang akan menjadi kebanggaan seluruh
rakyat Purworejo nantinya.
Setelah Kayu Jati yang diperuntukan bagi Bedug Agung itu
sampai di masjid Agung Kota Purworejo, maka untuk selanjutnya akan
disempurnakan sebagaimana halnya sebuah bedug, yaitu dipasang penutup Bedug
dari kulit. Karena besarnya bedug itu, maka diperlukan kulit penutup yang besar
pula kemudian dicarilah kulit yang besar dari hewan besar. Pada masa itu masih
banyak terdapat banteng. Maka jatuhlah pada pilihan hewan ini. Setelah didapat,
kulit banteng
dengan diameter 220 cm, untuk merekatkan kulit banteng tersebut di pakailah
paku 120 untuk bagian depan dan 98 paku untuk bagian belakang. Lalu dipanggilmya seorang yang ahli Pemangkis ( penutup
) bedug yang terkenal di Purworejo. Sebelum di
tutup, didalam bedug itu dipasang semacam gong sejumlah 2 buah, dipasang
behadapan dengan maksud, apabila bedug itu di tabuh, maka akan diteruskan pada
kedua gong tadi getarannya. Diharapkan suaranya akan bertambah nyaring. Disampingnya
diletakkan sebuah khenthongan kayu jati yang agak besar, sebagai pembantu irama
bedug bila di tabuh. Pada awalnya Bedug Ageng itu adalah ditabuh orang apabila
telah tiba saatnya Sholat Wajib yang Lima. Jadi didalam waktu satu hari Bedug
Agung di pukul dengan irama tertentu sebanyak lima ( 5 ) kali. Pernah ketika berusia 102 tahun
tepatnya di tanggal 3 Mei 1936 kulit banteng bagian belakang
sobek dimakan usia sehingga terpaksa di ganti. Namun kendala pada waktu
pergantian kulit yang sobek itu adalah susahnya mencari kulit
banteng lagi. Dengan terpaksa di perolehlah kulit sapi pemacak dari desa
Winong kecamatan Kemiri Purworejo.
Ini adalah salah satu Cerita Legenda dari Purworejo
No comments:
Post a Comment