Friday, March 28, 2014

Tugas Softskill Mat & Ilmu Alamiah Dasar

Bedug Pendowo
Pernah dengar daerah yang namanya Purworejo? Sedikit dari teman – teman saya yang tau daerah yang berada di Jawa Tengah ini. Ya, itulah kampung halaman dari ibu saya, Purworejo sebuah daerah di Jawa tengah yang memiliki cerita tersendiri untuk saya dan keluarga. Di purworejo terdapat sebuah alun – alun yang tepat berada di sebuah masjid. Nama masjid itu adalah Masjid Agung Darul Mutaqqin, di masjid ini ada sebuah bedug besar yang bisa dikatakan bedug terbesar di Indonesia. Setelah saya melihat sepintas dari kejauhan, bedug tersebut terlihat amatlah besar. Menurut cerita dari ibu saya, kulit bedug tersebut terbuat dari kulit banteng dan tidak ada sambungannya. Karena rasa penasaran, akhirnya saya mulai mencari tau bagaimana sejarah bedug besar itu.
Ini cerita yang saya dapatkan. Nama bedug itu adalah Bedug Pendowo, bedug itu terletak di Desa Bagelen, Purworejo, Jawa Tengah. Bedug Pendowo dibuat pada tahun 1762 tahun jawa dan 1834 Masehi. Bedug ini dibuat dengan menggunakan kayu jati yang bercabang lima. Di buat dengan cara melobangi bongkot (pangkal) kayu jati bercabang lima yang sangat langka karena usianya yang ratusan tahun. Bongkot  kayu jati tersebut berasal dari dusun Pendowo desa Bragolan kecamatan Purwodadi, sementara kulitnya adalah berasal dari kulit banteng. Pembuatan bedug ini merupakan perintah dari seorang Bupati, yaitu Kanjeng Raden Adipati Arya Cokronagoro I yang diangkat menjadi Bupati oleh pemerintah Hindia - Belanda setelah perang Diponegoro tahun 1825-1830 dengan seorang Patih (pembantu Bupati) yang bernama Raden Cokrojoyo.
Kanjeng Raden Adipati Arya Cokronagoro I  memerintahkan Tumenggung Prawironegoro Wedana Bragolan untuk membantunya dalam perancangan bedug Pendowo tersebut. Tumengung Prawironegoro Wedana Bragolan adalah adik kandung dari Kanjeng Raden Adipati Arya Cokronegoro I. Setelah di sepakati akhirnya mulailah pengerjaan pembuatan bedug tersebut di dusun Pendowo desa Bagelen Kecamatan Purwodadi karena daerah inilah yang memiliki pohon jati bercabang lima yang telah berusia ratusan tahun. Dengan trampilnya para tukang kayu mengerjakan Bedug besar itu, digergaji dan dilubanginya bongkot kayu jati tersebut. Setelah dilubangi dan dihaluskan maka tinggallah ukuran yang sesungguhnya, yaitu diameter ( garis tengah ) 194 sentimeter pada bagian depan dan bagian belakang 180 sentimeter. Dapat dibayangkan saat pembuatan lubang pada bongkot kayu jati tersebut, pastinya sangatlah sulit, karena kayunya sangat keras. Bahkan ada perkiraan pada saat melubangi kayu itu dilakukan dengan membuat bara didalam kayu itu sendiri, sehingga akan terjadi lubang, kemudian dilanjutkan dengan dicungkil sedikit demi sedikit sampai akhirnya terbentuk lubang yang sangat bagus. Yang jelas dalam proses pembuatan bedug itu sendiri, dilaksanakan dengan hati-hati dan permohonan kepada Allah SWT. Kanjeng Raden Adipati Arya Cokronagoro I berkeinginan membuat bedug itu sebagai penanda datangnya waktu sholat.  Karena saat itu Kanjeng Raden Adipati Arya Cokronagoro I memeluk agama Islam dan berkeinginan mensyiarkan agama Islam di daerah itu.
Sementara itu Kanjeng Raden Adipati Arya Cokronagoro I juga mengawasi proses pembuatan masjid Agung Darul Muttaqin yang merupakan tanah wakaf seluas 70 x 80 meter persegi. Masjid itu sendiri memiliki luas yang tak kurang dari 21 x 22 meter persegi. Setelah selesai dalam pembuatannya, Bedug Pendowo berukuran panjang 292 cm dengan diameter depan 194 cm dan diameter bagian belakang 180 cm. Untuk ukuran keliling bagian depan adalah 601 cm dan keliling bagian belakang adalah 564 cm.  Bedug Pendowo ini tidak tampak seperti sambungan karena pengerjaan yang terampil dan benar – benar utuh. Karena bedug Pendowo atau sering juga disebut Kyai Bagelen oleh orang-orang Purworejo telah selesai pembuatannya di dusun Pendowo desa Bagelen kecamatan Purwodadi  maka oleh Kanjeng Raden Adipati Arya Cokronagoro I dipindahkan menuju masjid Darul Muttaqin Purworejo. Pemindahan yang berjarak 9 kilometer. Pada masa itu jarak 9 kilometer adalah cukup jauh, apalagi jalannya belumlah seperti pada masa kini yang sudah beraspal dan halus. Pada masa itu, jalan dari Purwodadi sampai ke kota Purworejo masih merupakan jalan tanah yang belum rata dan bilamana dimusim hujan akan berlumpur, sedangkan pada musim panas berdebu penuh batu.
Setelah Bupati Raden Adipati Cokronagoro menerima laporan dari adindanya Wedana Raden Tumenggung Prawironagoro, bahwa Bedug Agung telah selesai dibuat dan siap untuk segera diangkut ke Purworejo. Dengan jarak tempuh yang jauh, bedug itu dipindahkan ke Purworejo dengan cara digotong beramai – ramai dengan diiringi gamelan dan penari tayup. Dapat diperkirakan dalam proses pemindahan bedug itu memakan waktu 20 hari perjalanan penarikan Bedug Ageng tersebut. Di Kota Purworejo telah disiapkan penyambutan oleh Kangjeng Raden Adipati Cokronagoro beserta pembesar-pembesar Kabupaten dan Ulama-ulama, demikian pula penduduk Kota Purworejo turut mengelu-elukannya. Di depan Gapura Masjid Agung, para penyambut telah siap siaga menunggu kedatangan Beduk Ageng yang akan menjadi kebanggaan seluruh rakyat Purworejo nantinya.
Setelah Kayu Jati yang diperuntukan bagi Bedug Agung itu sampai di masjid Agung Kota Purworejo, maka untuk selanjutnya akan disempurnakan sebagaimana halnya sebuah bedug, yaitu dipasang penutup Bedug dari kulit. Karena besarnya bedug itu, maka diperlukan kulit penutup yang besar pula kemudian dicarilah kulit yang besar dari hewan besar. Pada masa itu masih banyak terdapat banteng. Maka jatuhlah pada pilihan hewan ini. Setelah didapat, kulit banteng dengan diameter 220 cm, untuk merekatkan kulit banteng tersebut di pakailah paku 120 untuk bagian depan dan 98 paku untuk bagian belakang. Lalu dipanggilmya seorang yang ahli Pemangkis ( penutup ) bedug yang terkenal di Purworejo. Sebelum di tutup, didalam bedug itu dipasang semacam gong sejumlah 2 buah, dipasang behadapan dengan maksud, apabila bedug itu di tabuh, maka akan diteruskan pada kedua gong tadi getarannya. Diharapkan suaranya akan bertambah nyaring. Disampingnya diletakkan sebuah khenthongan kayu jati yang agak besar, sebagai pembantu irama bedug bila di tabuh. Pada awalnya Bedug Ageng itu adalah ditabuh orang apabila telah tiba saatnya Sholat Wajib yang Lima. Jadi didalam waktu satu hari Bedug Agung di pukul dengan irama tertentu sebanyak lima ( 5 ) kali. Pernah ketika berusia 102 tahun tepatnya di tanggal 3 Mei 1936 kulit banteng bagian belakang sobek dimakan usia sehingga terpaksa di ganti. Namun kendala pada waktu pergantian kulit yang sobek itu  adalah susahnya  mencari kulit banteng lagi. Dengan terpaksa di perolehlah kulit sapi pemacak dari desa Winong kecamatan Kemiri Purworejo.


Ini adalah salah satu Cerita Legenda dari Purworejo 

No comments:

Post a Comment