Monday, November 7, 2016

TUGAS SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI

ARSITEKTUR KOMPUTER DAN STRUKTUR KOGNITIF MANUSIA
      A.    Arsitektur Komputer
1.      Pengertian Arsitektur Komputer
Arsitektur komputer adalah dapat dikategorikan sebagai ilmu dan sekaligus sebagai suatu seni mengenai cara interkoneksi antara berbagai komponen perangkat keras atau hardware untuk dapat menciptakan sebuah komputer yang dapat memenuhi kebutuhan fungsional, kinerja, dan juga target biayanya.
Dalam bidang teknik komputer, definisi arsitektur komputer adalah suatu konsep perencanaan dan juga struktur pengoperasian dasar dari suatu sistem komputer atau ilmu yang bertujuan untuk perancangan sistem komputer.
Arsitektur von Neumann (atau Mesin Von Neumann) adalah arsitektur yang diciptakan oleh John von Neumann [1903 – 1957]. Arsitektur ini digunakan oleh hampir pada semua komputer pada saat ini. Arsitektur Von Neumann ini menggambarkan komputer dengan 4 (empat) bagian utama, yaitu: Unit Aritmatika & Logis (ALU), unit kontrol, memori, & alat masukan & hasil (secara kolektif dinamakan I/O). Bagian tersebut dihubungkan oleh berkas kawat, “bus”.
Arsitekturkomputer adalah konsep perencanaan dalam sebuah sistem komputer. Di dalam arsitektur komputer juga terdapat struktur pengoprasian dasar dari perangkat komputer itu sendiri. Bagaimana nantinya komputer yang akan dirancang dapat beroperasi secara semestinya.
2.      Tingkatan dalam Arsitektur Komputer
Ada sejumlah tingkatan dalam konstruksi dan organisasi sistem komputer. Perbedaan paling sederhana diantara tingkatan tersebut adalah perbedaan antara hardware dan software.
Tingkatan Dasar Arsitektur Komputer. Pada tingkatan ini Hardware sebagai tingkatan komputer yang paling bawah dan paling dasar, dimana pada hardware ini “layer” software ditambahkan. Software tersebut berada di atas hardware, menggunakannya dan mengontrolnya. Hardarwe ini mendukung software dengan memberikan atau menyediakan operasi yang diperlukan software.

Multilayerd Machine. Tingkatan dasar arsitektur komputer kemudian dikembangkan dengan memandang sistem komputer keseluruhan sebagai “multilayered machine” yang terdiri dari beberapa layer software di atas beberapa layer hardware.

1)      CPU (Central processing Unit), yang mengendalikan semua unit sistem komputer yang lain dan mengubah input menjadi output.
·         Primary storage (penyimpanan primer), berisi data yang sedang diolah dan program
·         Control unit (unit pengendalian), membuat semua unit bekerja sama sebagai suatu sistem
·         Aritmatika and logical Unit, tempat berlangsungnya operasi perhitungan matematika dan logika
2)      Unit Input, memasukkan data ke dalam primary storage
3)      Secondary storage (penyimpanan sekunder), menyediakan tempat untuk menyimpan program dan data saat tidak digunakan
4)      Unit Output, mencatat hasil pengolahan
3.      Komponen pada Arsitektur Komputer menjadi 4, yaitu :
1)      Input
            Input (Masukan) Adalah perangkat keras komputer yang berfungsi sebagai alat untuk memasukan data atau perintah ke dalam komputer yang berupa signal input atau maintenance input. Di dalam sistem komputer, signal input berupa data yang dimasukkan ke dalam sistem komputer, sedangkan maintenance input berupa program yang digunakan untuk mengolah data yang dimasukkan.
2)      Pemroses
            Sebuah komponen komputer yang bekerja untuk mengolah data yang masuk kedalam komputer.
3)      Penyimpanan
            Sebuah komponen komputer yang berfungsi untuk menyimpan data baik sementara atau selamanya.
4)      Output
            Output (Keluaran) Adalah perangkat keras komputer yang berfungsi untuk menampilkan keluaran sebagai hasil pengolahan data. Keluaran dapat berupa hard-copy (ke kertas), soft-copy (ke monitor), ataupun berupa suara.
keyboard berfungsi memasukkan data baik berupa huruf, angka, atau symbol.
      B.     Struktur kognisi manusia
Sebelum membahas apa itu struktur kognisi manusia, ada baiknya kalau kita mengartikan kata struktur dan kognisi terlebih dahulu untuk mempermudah kita dalam memahaminya. Menurut Prof. Benny H. Hoed (dalam Ekky, 2012) struktur adalah bangun (teoritis) yang terdiri atas unsur-unsur yang berhubungan satu sama lain dalam satu kesatuan, sedangkan kognitif, Menurut Drever (Solihin, 2012) disebutkan bahwa kognisi adalah istilah umum yang mencakup segenap model pemahaman, yakni persepsi, imajinasi, penangkapan makna, penialain, dan penalaran. Dan Menurut Chaplin (2002) dikatakan bahwa kognisi adalah konsep umum yang mencakup semua bentuk mengenal, termasuk di dalamnya mengamati, melihat, memperhatikan, memberikan, menyangka, membayangkan, memperkirakan, menduga dan menilai.
     C.     Kaitan antara Struktur Manusia dan Arsitektur Manusia
Komputer dan kognisi memiliki persamaan dalam hal memproses informasi. Jika dikaitkan dengan arsitektur komputer yang memiliki pengertian sebagai konsep perencanaan dan struktur pengoperasian dasar dari suatu sistem komputer, maka kognisi manusia pun mampu melakukan sebuah perencanaan dan turut berperan penting dalam pembuatan suatu sistem dari komputer.
Manusialah yang menciptakan komputer dengan sistem yang menyerupai kognisi manusia dengan maksud mempermudah manusia dalam pekerjaannya. Karena manusia memiliki otak yang melakukan proses memperoleh pengetahuan dan memanipulasi pengetahuan melalui aktivitas mengingat, menganalisis, memahami, menilai, menalar, membayangkan, berbahasa yang disebut sebagai kognisi. Hal ini juga behubungan dengan kognitif manusia dalam mengingat informasi.

     D.    Kelebihan dan Kekurangan
Sehingga analisa yang mendasar antara struktur kognisi manusia dan arsitektur komputer adalah :
Struktur kognisi manusia merupakan bagian atau komponen yang terstruktur dalam otak manusia yang memberi pengetahuan berdasarkan sistem, skema, adaptasi, asimilasi dan akomodasi yang membentuk suatu kematangan dan pengalaman otak dalam menjalankan kehidupan sosial bagi seorang manusia. Mempunyai struktur yang sangat kompleks.
Arsitektur komputer merupakan konsep perencanaan dan struktur pengoperasian dasar dari suatu sistem komputer, kompleks namun tidak sekompleks kognisi manusia. Arsitektur komputer ini merupakan rencana deskripsi fungsional dari kebutuhan bagian perangkat keras yang didesain (kecepatan proses dan sistem interkoneksinya). Dalam hal ini, implementasi perencanaan dari masing–masing bagian akan lebih difokuskan terutama, mengenai bagaimana CPU akan bekerja, dan mengenai cara pengaksesan data dan alamat dari dan ke memori cache, RAM, ROM, cakram keras, dll. Beberapa contoh dari arsitektur komputer adalah arsitektur von Neumann, CISC, RISC.

     E.     Perbedaan antara arsitektur komputer dan struktur kognisi manusia
Kelebihan dan kekurangan dari arsitektur komputer, yaitu :
Kelebihan:
1)      Memiliki processor yang berjumlah lebih dari satu
2)      Bisa digunakan oleh banyak pengguna (multi user)
3)      Dapat membuka beberapa aplikasi dalam waktu bersamaan
4)      Kecepatan kerja processornya hingga 1GOPS (Giga Operations Per Second)
Kekurangan:
1)      Karena ukurannya yang besar, maka diperlukan ruangan yang besar untuk menyimpannya
2)      Harganya sangat mahal
3)      Interface dengan pengguna masih menggunakan teks
4)      Membutuhkan daya listrik yang sangat besar
Kelebihan dan kekurangan dari struktur kognisi, yaitu :
Kelebihan :
1)      Struktur kognisi lebih sistematis sehingga memiliki arah dan tujuan yang jelas
2)      Banyak memberi motivasi agar terjadi proses belajar
3)      Mengoptimalisasikan kerja otak secara maksimal 
Kekurangan :
1)      Membutuhkan waktu yang cukup lama
2)      Terkadang sulit mengaplikasikannya dikehidupan sehari-hari, karena tergantung individu masing-masing dalam mengoptimalkan cara berpikir mereka
     F.     Contoh Kasus
Di era globalisasi saat ini banyak sekali permainan yang menggunakan teknologi yang canggih, diantaranya yaitu komputer. Permainan dengan penggunaan teknologi komputer tersebut dapat kita jumpai salah satunya pada acara “Eat Bulaga Indonesia” (Indonesia Pintar) yang ditayangkan oleh salah satu tv swasta. Permainan tersebut menggunakan komputer, yang dilakukan /dimainkan oleh dua orang. Cara bermainya yaitu, satu orang menggunakan helm yang di atas helm tersebut terdapat tulisan/kata yang akan ditebak oleh rekan mainnya. Permainan tersebut menggunakan waktu yang telah ditentukan, mereka harus menebak “karakteristik” misalnya “sawi putih” teman yang menebak tidak boleh langsung menyebutkan “sayuran” tetapi harus menunggu teman yang menggunakan helm tadi menjawab apa yang disebutkan oleh temannya.
Dalam kuis tersebut, dapat menggambarkan arsitektur komputer melalui keluarnya tulisan melalui helm yang digunakan peserta untuk menebak dan peserta dituntut menggunakan kognisinya dalam proses mengingat.

Sumber :
B.R. Hergenhahn & Matthew H. Olson, Theories of Learning, terj. Tri Wibowo.
Solso, M. (2008). Psikologi kognitif. Jakarta : Erlangga
Mastur.(2011). Piaget dan teori 

Sunday, November 6, 2016

TUGAS SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI

1. Pengantar Sistem Informasi Psikologi

A. Pengertian Informasi
Menurut Anton Moeliono (1990:33) informasi adalah penerangan, keterangan, pemberitahuan, kabar atau berita (tentang) juga mengenai keterangan atau bahan nyata yang dapat dijadikan dasar kajian analisis atau kesimpulan. 
Pendapat lain dinyatakan oleh ordon B. Davis (1984:200), "Information" is data that has been processed into a form that is meaningful to the recipient and is of real or perceived value in current or prospective actions or decisions" yang artinya bahwa Informasi  adalah data yang telah diproses/diolah ke dalam bentuk yang sangat berarti untuk penerimanya dan merupakan nilai yang sesungguhnya atau dipahami dalam tindakan atau keputusan yang sekarang atau nantinya.
Menurut Kenneth C. Laudon informasi adalah data yang sudah dibentuk dalam sebuah formulir bentuk yang bermanfaat dan dapat digunakan untuk manusia.
Dari beberapa pendapat ahli di atas dapat dikatakan bahwa informasi merupakan hasil dari proses intelektual seseorang. Dimana suatu informasi dimulai dari sebuah data yang kemudian dibentuk atau diolah sehingga menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi manusia. Proses intelektual itu sendiri merupakan proses mengolah atau memproses stimulus, yang masuk ke dalam diri individu melalui panca indera, kemudian diteruskan ke otak atau pusat syaraf untuk diolah atau diproses dengan pengetahuan, pengalaman, selera, dan iman yang dimiliki seseorang. Setelah mengalami pemrosesan, stimulus itu dapat dimengerti sebagai informasi. Informasi ini bisa diingat di otak, bila dikomunikasikan kepada individu atau khalayak, maka akan berubah menjadi sebuah pesan.
Suatu informasi tentu berkaitan dengan adanya sistem. Sistem merupakan suatu kesatuan yang terdiri dari komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi, untuk mencapai suatu tujuan. Suatu sistem terdiri dari sejumlah komponen yang saling berinteraksi , yang artinya saling bekerjasama untuk membentuk suatu kesatuan. Komponen-komponen sistem atau elemen-elemen sistem dapat berupa subsistem atau bagian-bagian dari sistem. Setiap sistem tidak perduli betapapun kecilnya, selalu mengandung komponen-komponen atau subsistem-subsistem. Setiap subsistem mempunyai sifat-sifat dari subsistem untuk menjalankan suatu fungsi tertentu dan mempengaruhi proses sistem secara keseluruhan.

B. Pengertian Sistem Informasi Psikologi
Sistem informasi sendiri merupakan sebuah sistem atau unsur yang terdiri atas rangkaian subsistem informasi terhadap pengolahan data untuk menghasilkan informasi yang berguna dalam pengambilan keputusan dan mencapai suatu tujuan tertentu. Sistem informasi memiliki banyak peranan dalam suatu organisasi/institusi/perusahaan, diantaranya yaitu turut serta dalam pelaksanaan tugas rutin, mengaitkan perencanaan, pengerjaan, dan pengendalian sistem. Disamping memiliki banyak peranan, sistem informasi juga memiliki banyak kemampuan, yang mana diharapkan dapat meningkatkan produktivitas, mengurangi biaya-biaya tertentu, serta adanya peningkatan dalam pengambilan keputusan.
Dalam praktiknya, keberadaan sistem informasi tersebut ternyata juga berperan dalam suatu bidang keilmuan, diantaranya yaitu ilmu psikologi. Dalam psikologi sendiri banyak dilakukan beberapa tes yang menggunakan komputerisasi. Misalnya penggunaan tes psikologi secara virtual, penggunaan teknologi eye-tracking dan yang terbaru adalah teknologi virtual reality yang memungkinkan seseorang untuk mengurangi bahkan menyembuhkan gangguan psikologis seperti, ADHD, PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) dan beragam fobia. Contoh nyatanya adalah banyaknya tes-tes yang dulu diberikan secara manual sudah bisa dikomputerisasi seperti, PAPIKOSTIK, hal ini merupakan kerjasama antar bidang ilmu computer dan psikologi yang pada akhirnya bermanfaat untuk peningkatan kualitas tes psikologi itu sendiri.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian Sistem Informasi Psikologi adalah sebuah sistem yang digunakan untuk mendapatkan informasi-informasi yang berhubungan dengan ilmu psikologis, yang juga merupakan kombinasi dengan manusia, alat teknologi, media, prosedur, dan pengendalian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan, mengolah, dan menyimpan data mengenai prilaku terlihat maupun tidak terlihat secara langsung serta proses mental yang terjadi pada manusia sehingga data tersebut dapat diubah menjadi informasi yang dapat digunakan untuk tujuan tertentu.

C. Contoh Kasus Sistem Informasi Psikologi
Saat ini banyak kasus kenakalan remaja, entah itu dari tingkat SD, SMP, ataupun SMA. Tak jarang, pihak sekolah merasa kewalahan menghadapi keadaan siswa yang memiliki problem tersebut. Guna membantu tugas guru BK dalam mengetahui karakter/kepribadian masing-masing siswanya, ilmu psikologi memiliki suatu tes, yaitu tes kepribadian. Tes kepribadian adalah seperangkat alat tes yang disusun untuk mendeskripsikan bagaimana kecenderungan seseorang bertingkah laku. Tes kepribadian sebenarnya adalah deskripsi kualitatif dari kepribadian, bukannya deskripsi kuantitatif (angka-angka), karena sebenarnya kepribadian tidak dapat diukur, tetapi hanya dapat dideskripsikan. Untuk membantu menjelaskan kepribadian, alat tes kepribadian menggunakan bantuan angka-angka dan kemudian hasilnya dintrepretasikan/dideskripsikan kedalam kualitatif.
 Angka yang dilekatkan/didapatkan seseorang pada tes kepribadian bukanlah angka sesungguhnya. Jika si A mendapatkan angka 9 dari tes kepribadian dan si B mendapatkan angka 6, bukan berarti kepribadian si A lebih tinggi dari kepribadian si B. Angka disini hanyalah alat bantu untuk mendeskripsikan kepribadian, misalnya si A lebih tahan dari gangguan emosi dibandingkan dengan si B.
 Yang perlu diketahui pula dari tes kepribadian adalah bahwa kepribadian tidak mengandung unsur nilai “baik buruk, tinggi rendah, dan lain-lain”. Kepribadian adalah unik, sehingga tidak bisa dibandingkan dengan orang lain dalam pendeskripsiannya. Tetapi, untuk mempermudah pengukuran dalam psikologi, disusunlah suatu criteria kepribadian dalam bentuk pengelompokan. Saat ini, kita mengenal pengelompokan kepribadian yang terkenal seperti DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders). Tetapi kekurangan dari pengelompokan kepribadaian ini adalah, hanya individu-indivdu yang mengalami masalah/gangguan yang dimasukkan dalam kriteria tersebut.
Seiring berkembangnya teknologi, keberadaan tes kepribadian ini pun bisa kita jumpai di sebuah situs online yang bernama  HYPERLINK "http://www.ipersonic.net" www.ipersonic.net. iPersonic dikembangkan oleh psikolog. Felicitas Heyne, pengembang dan pendiri tes kepribadian iPersonic adalah psikolog terkenal dan penulis buku. Beliau adalah anggota afiliasi internasional American Psychological Association (APA).


Sumber:
Anton M. Meliono, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Penerbit Balai Pustaka, Jakarta: 1990
 HYPERLINK "https://id.wikipedia.org/wiki/Sistem#Jenis_sistem" https://id.wikipedia.org/wiki/Sistem#Jenis_sistem, diakses tanggal 5 November 2016.
 HYPERLINK "http://www.sarjanaku.com/2012/11/pengertian-informasi-menurut-para-ahli.html" http://www.sarjanaku.com/2012/11/pengertian-informasi-menurut-para-ahli.html, diakses
      tanggal 5 November 2016.
Universitas Gunadarma. (1993). Pengantar Sistem Informasi. Depok: Universitas Gunadarma.
Wiryanto. (2004). Pengantar ilmu komunikasi. Jakarta: Grasindo


Thursday, January 7, 2016

Empowerment, Stres, Konflik serta Komunikasi Dalam Manajemen

A. Empowerment
Pemberdayaan (empowerment) adalah tindakan yang memberikan seorang individu atau tim hak dan fleksibilitas untuk membuat keputusan dan melaksanakan tindakan. Hal ini semakin diperluas dan sangat disarankan di banyak organisasi saat ini. Pelatihan, kelompok kerja madniri, eliminasi atas seluruh tingkatan manajemen dalam organisasi, dan penggunaan yang agresif atas otomasi adalah beberapa cara dan dampak dari perubahan mendasar dalam cara dimana organisasi bisnis berfungsi.
Empowerment memerlukan individu bertanggungjawab dalam menyiapkan keseluruhan tugas. Pekerja bertanggungjawab sepenuhnya dan accountable kepada tugasan atau kuasa yang telah diserahkan kepadanya. Dalam perkataan lain, empowerment menjurus kepada perluasan bidang kerja terutama dari sudut interaksi dan kebergantungan dengan pihak lain dalam organisasi (Besterfield, D.H et al. 2003:96).
·         Tujuan empowerment
Merupakan suatu kondisi yang dialami oleh masyarakat yang ditandai oleh kemampuan untuk memikirkan, memutuskan serta melakukan sesuatu yang dipandang tepat demi mencapai pemecahan masalah-masalah yang dihadapi dengan mempergunakan daya.
Tujuan dari pemberdayaan atau empowerment adalah untuk  membentuk individu dan masyarakat menjadi mandiri. Kemandirian tersebut meliputi kemandirian berfikir, bertindak dan mengendalikan apa yang mereka lakukan tersebut. Kemandirian masyarakat adalah kemampuan yang terdiri atas kemampuan kognitif, konatif, psikomotorik, afektif, dengan mengerahkan sumberdaya yang dimiliki oleh lingkungan internal masyarakat tersebut.

Dalam mempastikan empowerment dapat dilaksanakan, tiga keadaan perlu diambil yaitu : (Besterfield, D.H et al. 2003: 96-97) :
·         Semua orang mesti memahami keperluan untuk berubah. Namun, kebanyakan orang pada dasarnya takut menghadapi perubahan. Oleh itu komunikasi yang berkesan perlu ada dalam menyampaikan maklumat kenapa organisasi perlu berubah untuk berjaya.
·         Sistem perlu berubah mengikut paradigma yang baru dalam meningkatkan pencapaian individu mahupun kumpulan. Individu mahupun kumpulan haruslah faham bahawa kebebasan untuk bertindak adalah digalakkan.
·         Organisasi mestilah menyediakan maklumat, pendidikan dan kemahiran kepada pekerjanya agar keengganan untuk menerima perubahan akan berkurangan.



Organisasi yang mengamalkan empowerment akan mempunyai ciri-ciri berikut (Scott, C.D & Jaffe, D.T. 1991: 14 & 23):
·         meningkatkan kandungan kerja
·         meningkatkan kemahiran dan tugasan
·         menggalakkan kreativiti dan innovasi
·         kawalan lebih tinggi dalam membuat keputusan
·         menyiapkan keseluruhan kerja berbanding hanya separuh atau sebahagian sebelum ini
·         mengutamakan kepuasan pelanggan
·         pekerja bekerjasama dalam melaksanakan tugasan
·         perkongsian tanggungjawab, kemahiran, autoriti dan pengawalan
·         sesi komunikasi dan membuat keputusan yang berterusan membolehkan pengawalan dan kordinasi tugasan dilakukan
·         perubahan kadang-kadang amat cepat
·         kemahiran bekerja dengan orang lain perlu ada
·         kuasa berpunca daripada keupayaan untuk mempengaruhi dan memberikan dorongan
·         individu diharapkan untuk menguruskan diri mereka sendiri dan accountable dalam tugas mereka
·         pengurus bertindak sebagai energisers, penghubung dan pengupaya pasukan

B. Stress
Stres adalah suatu kondisi anda yang dinamis saat seorang individu dihadapkan pada peluang, tuntutan, atausumber daya yang terkait dengan apa yang dihasratkan oleh individu itu dan yang hasilnya dipandang tidak pasti dan penting. Stress adalah beban rohani yang melebihi kemampuan maksimum rohani itu sendiri, sehingga perbuatan kurang terkontrol secara sehat.
Stress adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental. Bentuk ketegangan ini mempengaruhi kinerja keseharian seseorang. Bahkan stress dapat membuat produktivitas menurun, rasa sakit dan gangguan-gangguan mental. Pada dasarnya, stress adalah sebuah bentuk ketegangan, baik fisik maupun mental. Sumber stress disebut dengan stressor dan ketegangan yang di akibatkan karena stress, disebut strain.
Menurut Robbins (2001) stress juga dapat diartikan sebagai suatu kondisi yang menekan keadaan psikis seseorang dalam mencapai suatu kesempatan dimana untuk mencapai kesempatan tersebut terdapat batasan atau penghalang. Dan apabila pengertian stress dikaitkan dengan penelitian ini maka stress itu sendiri adalah suatu kondisi yang mempengaruhi keadaan fisik atau psikis seseorang karena adanya tekanan dari dalam ataupun dari luar diri seseorang yang dapat mengganggu pelaksanaan kerja mereka.
Menurut Woolfolk dan Richardson (1979) menyatakan bahwa adanya system kognitif, apresiasi stress menyebabkan segala peristiwa yang terjadi disekitar kita akan dihayati sebagai suatu stress berdasarkan arti atau interprestasi yang kita berikan terhadap peristiwa tersebut, dan bukan karena peristiwa itu sendiri.Karenanya dikatakan bahwa stress adalah suatu persepsi dari ancaman atau dari suatu bayangan akan adanya ketidaksenangan yang menggerakkan, menyiagakan atau mambuat aktif organisme.
Sumber pontensial stres memberikan informasi kepada manajemen perusahaan untuk melaksanakan pendekatan individu terhadap organisasional dalam mengatasi stres. Ada dua pendekatan dalam mengatasi stres, yaitu:
a. Pendekatan individual
Seorang karyawan dapat memikul tanggung jawab pribadi untuk mengurangi tingkat stresnya. Strategi individu yang telah terbukti efektif adalah:
1. Teknik manajemen waktu
2. Meningkatkan latihan fisik
3. Pelatihan pengenduran (relaksasi)
4. Perluasan jaringan dukungan sosial
b. Pendekatan Organisasional
Beberapa faktor yang menyebabkan stres terutama tuntutan tugas dan peran, struktur organisasi dikendalikan oleh manajemen. Strategi yang digunakan:
1. Perbaikan seleksi personil dan penempatan kerja
2. Penggunaan penetapan tujuan yang realistis
3. Perancangan ulang pekerjaan
4. Peningkatan keterlibatan kerja
5. Perbaikan komunikasi organisasi
6. Penegakkan program kesejahteraan korporasi (Robbins, 2002: 311-312)

C. Konflik
Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.
Tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri. Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. Perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan Integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. Sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik.
Ada tiga teori konflik yang menonjol dalam ilmu sosial. Pertama adalah teori konflik C. Gerrtz, yaitu tentang primodialisme, kedua adalah teori konflik Karl. Marx, yaitu tentang pertentangan kelas, dan ketiga adalah teori konflik James Scott, yaitu tentang Patron Klien.
Penyebab Konflik :
·         Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.
Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya.
·         Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda.
Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik.
·         Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok.
Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda. 
·         Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat.
Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial.
Jenis – Jenis Konflik
Menurut Dahrendorf, konflik dibedakan menjadi 6 macam :
·         Konflik antara atau dalam peran sosial (intrapribadi), misalnya antara peranan-peranan dalam keluarga atau profesi (konflik peran (role))
·         Konflik antara kelompok-kelompok sosial (antar keluarga, antar geng).
·         Konflik kelompok terorganisir dan tidak terorganisir (polisi melawan massa).
·         Konflik antar satuan nasional (kampanye, perang saudara)
·         Konflik antar atau tidak antar agama
·         Konflik antar politik.
·         konflik individu dengan kelompok

D. Komunikasi Dalam Manajemen
Komunikasi merupakan sarana untuk terjalinnya hubungan antar seseorang dengan orang lain,dengan adanya komunikasi maka terjadilah hubungan sosial, karena bahwa manusia itu adalah sebagaimakluk social, di antara yang dengan yang lainnya saling membutuhkan, sehingga terjadinya interaksiyang timbalk balik.Dalam hubungan seseorang dengan orang lain tentunya terjadinya proses komunikasi itu tentunya tidakterlepas dari tujuan yang menjadi topik atau pokok pembahasan, dan juga untuk tercapainya prosespenyampaian informasi itu akan berhasil apabila ditunjang dengan alat atau media sebagai saranapenyaluran informasi atau berita.
Komunikasi dalam manajemen diibaratkan sebagai “minyak pelumas” bahkan GR. Terry mengatakan bahwa management is communications. Dari pendapat tersebut terlihat betapa pentingnya peran komunikasi dalam kegiatan manajemen.
GR. Terry mengemukakan bahwa dalam suatu kegiatan manajemen terdapat lima bentuk komunikasi, antara lain:
  1. Komunikasi formal. Biasanya terjadi dalam jalus komunikasi formal, memiliki wewenang dan tanggung jawab yaitu melalui instruksi-instruksi bentuk lisan dan tulisan sesuai dengan prosedur secara fungsional yang berlaku dari arus atasan ke bawahan atau sebaliknya.
  2. Komunikasi non-formal, yaitu di luar komunikasi formal, terjadi secara spontan. Misalnya Sumbang saran yang berkaitan dengan tugas, kewajiban. Efektif digunakan dalam perusahaan yang bersifat padat karya dengan jumlah pekerja cukup banyak, dan tidak terlalu teknis.
  3. Komunikasi informal. Seperti halnya komunikasi non formal namun lebih menekankan pada aspek human relations-nya. Atau dengan kata lain digunakan dalam permasalahan di luar pekerjaan secara langsung.
  4. Komunikasi teknis. Biasanya hanya dilakukan dan dimengerti oleh orang-orang tertentu saja yang berkaitan dengan kegiatan tersebut.
  5. Komunikasi prosedural. Biasanya dekat dengan komunikasi formal, diwujudkan misalnya dalam bentuk pemberian laporan tahuan/bulanan, instruksi tertulis, memo dan lain-lain.
Sementara Onong U Effendy mengelompokkan komunikasi dalam manajemen menjadi tiga dimensi, yaitu:
  1. Komunikasi vertikal, yaitu arus komunikasi dua arah timbal balik dalam melaksanakan fungsi-fungsi manajemen, bisa dari atas ke bawah (downward communication) dan bisa dari bawah ke atas(upward communication).
  2. Komunikasi horizontal, merupakan komunikasi satu level yang terjadi antara satu karyawan dengan karyawan lainnya atau pimpinan satu departemen dengan departemen lainnya dalam satu tingkatan dan lain sebagainya.
  3. Komunikasi eksternal, Berlangsung secara dua arah antara pihak organisasi/lembaga dengan pihak luar.
  4. Komunikasi yang terjadi dalam suatu organisasi ditentukan oleh kebijakan dan arus informasi yang ada dalam organisasi tersebut. Arus informasi akan membentuk pola-pola hubungan atau jaringan komunikasi.
Menurut Stephen P. Robbins pada umumnya dikenal lima model jaringan komunikasi yaitu sebagai berikut:
a)  Model Rantai (chain)
Dalam model jaringan komunikasi ini, hanya dikenal komunikasi sistem arus ke atas (upward) dan ke bawah (downward). Model ini hanya memungkinkan adanya hubungan garis langsung (komando) tanpa adanya suatu penyimpangan. Model ini banyak dianut dalam organisasi militer, masalah laporan keuangan, pembayaran gaji dan lain-lain.
b)  Model Roda (wheel)
Sistem jaringan komunikasi, disini semua laporan, instruksi perintah kerja dan kepengawasan terpusat satu orang yang memimpin empat bawahan atau lebih dan antara bawahan tidak terjadi interaksi (komunikasi sesamanya).
c) Model Lingkaran (circle)
Pada model komunikasi ini semua anggota/staff bisa berinteraksi pada setiap tiga tingkatan hirarkinyatetapi tanpa ada kelanjutannya pada tingkat yang lebih tinggi, dan hanya terbatas pada setiap levelnya.
d) Model saluran bebas (all-channel)
Model ini adalah pengembangan dari model lingkaran, dimana semua tiga level tersebut dapat melakukan interaksi secara timbal balik tanpa menganut siapa yang menjadi tokoh sentarlnya.
e) Model huruf “Y”
Model ini tidak jauh berbeda dengan model rantai, hanya saja terdapat empat level jenjang hirarki, satu supervisor memiliki dua atasan dan dua bawahan.

Sumber :