A. Empowerment
Pemberdayaan (empowerment) adalah tindakan yang memberikan seorang
individu atau tim hak dan fleksibilitas untuk membuat keputusan dan
melaksanakan tindakan. Hal ini semakin diperluas dan sangat disarankan di
banyak organisasi saat ini. Pelatihan, kelompok kerja madniri,
eliminasi atas seluruh tingkatan manajemen dalam organisasi, dan penggunaan
yang agresif atas otomasi adalah beberapa cara dan dampak dari perubahan
mendasar dalam cara dimana organisasi bisnis berfungsi.
Empowerment memerlukan individu
bertanggungjawab dalam menyiapkan keseluruhan tugas. Pekerja bertanggungjawab
sepenuhnya dan accountable kepada tugasan atau kuasa yang telah diserahkan
kepadanya. Dalam perkataan lain, empowerment menjurus kepada perluasan bidang
kerja terutama dari sudut interaksi dan kebergantungan dengan pihak lain dalam
organisasi (Besterfield, D.H et al. 2003:96).
·
Tujuan empowerment
Merupakan
suatu kondisi yang dialami oleh masyarakat yang ditandai oleh kemampuan untuk
memikirkan, memutuskan serta melakukan sesuatu yang dipandang tepat demi
mencapai pemecahan masalah-masalah yang dihadapi dengan mempergunakan daya.
Tujuan dari
pemberdayaan atau empowerment adalah untuk membentuk
individu dan masyarakat menjadi mandiri. Kemandirian tersebut meliputi kemandirian
berfikir, bertindak dan mengendalikan apa yang mereka lakukan tersebut.
Kemandirian masyarakat adalah kemampuan yang terdiri atas kemampuan kognitif,
konatif, psikomotorik, afektif, dengan mengerahkan sumberdaya yang dimiliki
oleh lingkungan internal masyarakat tersebut.
Dalam mempastikan empowerment dapat
dilaksanakan, tiga keadaan perlu diambil yaitu : (Besterfield, D.H et al. 2003:
96-97) :
·
Semua orang mesti memahami keperluan untuk berubah. Namun,
kebanyakan orang pada dasarnya takut menghadapi perubahan. Oleh itu komunikasi
yang berkesan perlu ada dalam menyampaikan maklumat kenapa organisasi perlu
berubah untuk berjaya.
·
Sistem perlu berubah mengikut paradigma yang baru dalam
meningkatkan pencapaian individu mahupun kumpulan. Individu mahupun kumpulan
haruslah faham bahawa kebebasan untuk bertindak adalah digalakkan.
·
Organisasi mestilah menyediakan maklumat, pendidikan dan
kemahiran kepada pekerjanya agar keengganan untuk menerima perubahan akan
berkurangan.
Organisasi yang mengamalkan empowerment akan
mempunyai ciri-ciri berikut (Scott, C.D & Jaffe, D.T. 1991: 14 & 23):
·
meningkatkan kandungan kerja
·
meningkatkan kemahiran dan tugasan
·
menggalakkan kreativiti dan innovasi
·
kawalan lebih tinggi dalam membuat keputusan
·
menyiapkan keseluruhan kerja berbanding hanya separuh atau
sebahagian sebelum ini
·
mengutamakan kepuasan pelanggan
·
pekerja bekerjasama dalam melaksanakan tugasan
·
perkongsian tanggungjawab, kemahiran, autoriti dan pengawalan
·
sesi komunikasi dan membuat keputusan yang berterusan
membolehkan pengawalan dan kordinasi tugasan dilakukan
·
perubahan kadang-kadang amat cepat
·
kemahiran bekerja dengan orang lain perlu ada
·
kuasa berpunca daripada keupayaan untuk mempengaruhi dan
memberikan dorongan
·
individu diharapkan untuk menguruskan diri mereka sendiri dan
accountable dalam tugas mereka
·
pengurus bertindak sebagai energisers, penghubung dan pengupaya
pasukan
B.
Stress
Stres adalah suatu kondisi anda yang dinamis
saat seorang individu dihadapkan
pada peluang, tuntutan, atausumber daya yang terkait dengan apa yang
dihasratkan oleh individu itu
dan yang hasilnya dipandang tidak pasti dan penting. Stress adalah beban rohani
yang melebihi kemampuan maksimum rohani itu sendiri, sehingga perbuatan kurang
terkontrol secara sehat.
Stress
adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental. Bentuk
ketegangan ini mempengaruhi kinerja keseharian seseorang. Bahkan stress dapat
membuat produktivitas menurun, rasa sakit dan gangguan-gangguan mental. Pada
dasarnya, stress adalah sebuah bentuk ketegangan, baik fisik maupun mental.
Sumber stress disebut dengan stressor dan ketegangan yang di akibatkan karena
stress, disebut strain.
Menurut
Robbins (2001) stress juga dapat diartikan sebagai suatu kondisi yang menekan
keadaan psikis seseorang dalam mencapai suatu kesempatan dimana untuk mencapai
kesempatan tersebut terdapat batasan atau penghalang. Dan apabila pengertian
stress dikaitkan dengan penelitian ini maka stress itu sendiri adalah suatu
kondisi yang mempengaruhi keadaan fisik atau psikis seseorang karena adanya
tekanan dari dalam ataupun dari luar diri seseorang yang dapat mengganggu
pelaksanaan kerja mereka.
Menurut
Woolfolk dan Richardson (1979) menyatakan bahwa adanya system kognitif,
apresiasi stress menyebabkan segala peristiwa yang terjadi disekitar kita akan
dihayati sebagai suatu stress berdasarkan arti atau interprestasi yang kita
berikan terhadap peristiwa tersebut, dan bukan karena peristiwa itu sendiri.Karenanya
dikatakan bahwa stress adalah suatu persepsi dari ancaman atau dari suatu
bayangan akan adanya ketidaksenangan yang menggerakkan, menyiagakan atau
mambuat aktif organisme.
Sumber
pontensial stres memberikan informasi kepada manajemen perusahaan untuk
melaksanakan pendekatan individu terhadap organisasional dalam mengatasi stres.
Ada dua pendekatan dalam mengatasi stres, yaitu:
a.
Pendekatan individual
Seorang
karyawan dapat memikul tanggung jawab pribadi untuk mengurangi tingkat
stresnya. Strategi individu yang telah terbukti efektif adalah:
1.
Teknik manajemen waktu
2.
Meningkatkan latihan fisik
3.
Pelatihan pengenduran (relaksasi)
4.
Perluasan jaringan dukungan sosial
b.
Pendekatan Organisasional
Beberapa
faktor yang menyebabkan stres terutama tuntutan tugas dan peran, struktur
organisasi dikendalikan oleh manajemen. Strategi yang digunakan:
1.
Perbaikan seleksi personil dan penempatan kerja
2.
Penggunaan penetapan tujuan yang realistis
3.
Perancangan ulang pekerjaan
4.
Peningkatan keterlibatan kerja
5.
Perbaikan komunikasi organisasi
6.
Penegakkan program kesejahteraan korporasi (Robbins, 2002: 311-312)
C. Konflik
Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara
sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau
lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak
lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.
Tidak
satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau
dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan
hilangnya masyarakat itu sendiri. Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan
ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi.
Perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik,
kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya
ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang
wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang
tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat
lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu
sendiri.
Konflik bertentangan
dengan integrasi.
Konflik dan Integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. Konflik
yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. Sebaliknya, integrasi yang tidak
sempurna dapat menciptakan konflik.
Ada tiga teori konflik yang menonjol dalam ilmu sosial. Pertama
adalah teori konflik C. Gerrtz, yaitu tentang primodialisme, kedua adalah teori
konflik Karl. Marx, yaitu tentang pertentangan kelas, dan ketiga adalah teori
konflik James Scott, yaitu tentang Patron Klien.
Penyebab
Konflik :
·
Perbedaan
individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.
Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya,
setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan
lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang
nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani
hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya.
Seseorang
sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya.
Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan
perbedaan individu yang dapat memicu konflik.
·
Perbedaan
kepentingan antara individu atau kelompok.
Manusia
memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam
waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan
yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi
untuk tujuan yang berbeda-beda.
Perubahan
adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu
berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu
terjadinya konflik sosial.
Jenis – Jenis Konflik
·
Konflik antara atau dalam peran sosial (intrapribadi), misalnya antara
peranan-peranan dalam keluarga atau profesi (konflik peran (role))
·
Konflik antara kelompok-kelompok sosial
(antar keluarga, antar geng).
·
Konflik kelompok terorganisir dan tidak
terorganisir (polisi melawan massa).
·
Konflik antar satuan nasional (kampanye,
perang saudara)
·
Konflik antar atau tidak antar agama
·
Konflik antar politik.
·
konflik individu dengan kelompok
D. Komunikasi Dalam
Manajemen
Komunikasi
merupakan sarana untuk terjalinnya hubungan antar seseorang dengan orang
lain,dengan adanya komunikasi maka terjadilah hubungan sosial, karena bahwa
manusia itu adalah sebagaimakluk social, di antara yang dengan yang
lainnya saling membutuhkan, sehingga terjadinya interaksiyang timbalk
balik.Dalam hubungan seseorang dengan orang lain tentunya terjadinya proses
komunikasi itu tentunya tidakterlepas dari tujuan yang menjadi topik atau pokok
pembahasan, dan juga untuk tercapainya prosespenyampaian informasi itu akan
berhasil apabila ditunjang dengan alat atau media sebagai saranapenyaluran
informasi atau berita.
Komunikasi dalam
manajemen diibaratkan sebagai “minyak pelumas” bahkan GR. Terry mengatakan
bahwa management is communications. Dari pendapat tersebut terlihat betapa
pentingnya peran komunikasi dalam kegiatan manajemen.
GR. Terry mengemukakan bahwa dalam suatu kegiatan manajemen terdapat lima bentuk komunikasi, antara lain:
GR. Terry mengemukakan bahwa dalam suatu kegiatan manajemen terdapat lima bentuk komunikasi, antara lain:
- Komunikasi
formal. Biasanya terjadi dalam jalus komunikasi formal, memiliki wewenang
dan tanggung jawab yaitu melalui instruksi-instruksi bentuk lisan dan
tulisan sesuai dengan prosedur secara fungsional yang berlaku dari arus
atasan ke bawahan atau sebaliknya.
- Komunikasi
non-formal, yaitu di luar komunikasi formal, terjadi secara spontan.
Misalnya Sumbang saran yang berkaitan dengan tugas, kewajiban. Efektif
digunakan dalam perusahaan yang bersifat padat karya dengan jumlah pekerja
cukup banyak, dan tidak terlalu teknis.
- Komunikasi
informal. Seperti halnya komunikasi non formal namun lebih menekankan pada
aspek human relations-nya. Atau dengan kata lain digunakan dalam
permasalahan di luar pekerjaan secara langsung.
- Komunikasi
teknis. Biasanya hanya dilakukan dan dimengerti oleh orang-orang tertentu
saja yang berkaitan dengan kegiatan tersebut.
- Komunikasi
prosedural. Biasanya dekat dengan komunikasi formal, diwujudkan misalnya
dalam bentuk pemberian laporan tahuan/bulanan, instruksi tertulis, memo
dan lain-lain.
Sementara Onong U Effendy mengelompokkan komunikasi dalam
manajemen menjadi tiga dimensi, yaitu:
- Komunikasi
vertikal, yaitu arus komunikasi dua arah timbal balik dalam melaksanakan
fungsi-fungsi manajemen, bisa dari atas ke bawah (downward communication)
dan bisa dari bawah ke atas(upward communication).
- Komunikasi
horizontal, merupakan komunikasi satu level yang terjadi antara satu
karyawan dengan karyawan lainnya atau pimpinan satu departemen dengan
departemen lainnya dalam satu tingkatan dan lain sebagainya.
- Komunikasi
eksternal, Berlangsung secara dua arah antara pihak organisasi/lembaga
dengan pihak luar.
- Komunikasi
yang terjadi dalam suatu organisasi ditentukan oleh kebijakan dan arus
informasi yang ada dalam organisasi tersebut. Arus informasi akan
membentuk pola-pola hubungan atau jaringan komunikasi.
Menurut Stephen P. Robbins pada
umumnya dikenal lima model jaringan komunikasi yaitu sebagai berikut:
a) Model Rantai
(chain)
Dalam
model jaringan komunikasi ini, hanya dikenal komunikasi sistem arus ke atas
(upward) dan ke bawah (downward). Model ini hanya memungkinkan adanya hubungan
garis langsung (komando) tanpa adanya suatu penyimpangan. Model ini banyak
dianut dalam organisasi militer, masalah laporan keuangan, pembayaran gaji dan
lain-lain.
b) Model Roda (wheel)
b) Model Roda (wheel)
Sistem
jaringan komunikasi, disini semua laporan, instruksi perintah kerja dan
kepengawasan terpusat satu orang yang memimpin empat bawahan atau lebih dan
antara bawahan tidak terjadi interaksi (komunikasi sesamanya).
c) Model Lingkaran (circle)
Pada model
komunikasi ini semua anggota/staff bisa berinteraksi pada setiap tiga tingkatan
hirarkinyatetapi tanpa ada kelanjutannya pada tingkat yang lebih tinggi, dan
hanya terbatas pada setiap levelnya.
d) Model saluran bebas (all-channel)
Model ini
adalah pengembangan dari model lingkaran, dimana semua tiga level tersebut
dapat melakukan interaksi secara timbal balik tanpa menganut siapa yang menjadi
tokoh sentarlnya.
e) Model huruf “Y”
Model ini
tidak jauh berbeda dengan model rantai, hanya saja terdapat empat level jenjang
hirarki, satu supervisor memiliki dua atasan dan dua bawahan.
Sumber :