Thursday, January 7, 2016

Empowerment, Stres, Konflik serta Komunikasi Dalam Manajemen

A. Empowerment
Pemberdayaan (empowerment) adalah tindakan yang memberikan seorang individu atau tim hak dan fleksibilitas untuk membuat keputusan dan melaksanakan tindakan. Hal ini semakin diperluas dan sangat disarankan di banyak organisasi saat ini. Pelatihan, kelompok kerja madniri, eliminasi atas seluruh tingkatan manajemen dalam organisasi, dan penggunaan yang agresif atas otomasi adalah beberapa cara dan dampak dari perubahan mendasar dalam cara dimana organisasi bisnis berfungsi.
Empowerment memerlukan individu bertanggungjawab dalam menyiapkan keseluruhan tugas. Pekerja bertanggungjawab sepenuhnya dan accountable kepada tugasan atau kuasa yang telah diserahkan kepadanya. Dalam perkataan lain, empowerment menjurus kepada perluasan bidang kerja terutama dari sudut interaksi dan kebergantungan dengan pihak lain dalam organisasi (Besterfield, D.H et al. 2003:96).
·         Tujuan empowerment
Merupakan suatu kondisi yang dialami oleh masyarakat yang ditandai oleh kemampuan untuk memikirkan, memutuskan serta melakukan sesuatu yang dipandang tepat demi mencapai pemecahan masalah-masalah yang dihadapi dengan mempergunakan daya.
Tujuan dari pemberdayaan atau empowerment adalah untuk  membentuk individu dan masyarakat menjadi mandiri. Kemandirian tersebut meliputi kemandirian berfikir, bertindak dan mengendalikan apa yang mereka lakukan tersebut. Kemandirian masyarakat adalah kemampuan yang terdiri atas kemampuan kognitif, konatif, psikomotorik, afektif, dengan mengerahkan sumberdaya yang dimiliki oleh lingkungan internal masyarakat tersebut.

Dalam mempastikan empowerment dapat dilaksanakan, tiga keadaan perlu diambil yaitu : (Besterfield, D.H et al. 2003: 96-97) :
·         Semua orang mesti memahami keperluan untuk berubah. Namun, kebanyakan orang pada dasarnya takut menghadapi perubahan. Oleh itu komunikasi yang berkesan perlu ada dalam menyampaikan maklumat kenapa organisasi perlu berubah untuk berjaya.
·         Sistem perlu berubah mengikut paradigma yang baru dalam meningkatkan pencapaian individu mahupun kumpulan. Individu mahupun kumpulan haruslah faham bahawa kebebasan untuk bertindak adalah digalakkan.
·         Organisasi mestilah menyediakan maklumat, pendidikan dan kemahiran kepada pekerjanya agar keengganan untuk menerima perubahan akan berkurangan.



Organisasi yang mengamalkan empowerment akan mempunyai ciri-ciri berikut (Scott, C.D & Jaffe, D.T. 1991: 14 & 23):
·         meningkatkan kandungan kerja
·         meningkatkan kemahiran dan tugasan
·         menggalakkan kreativiti dan innovasi
·         kawalan lebih tinggi dalam membuat keputusan
·         menyiapkan keseluruhan kerja berbanding hanya separuh atau sebahagian sebelum ini
·         mengutamakan kepuasan pelanggan
·         pekerja bekerjasama dalam melaksanakan tugasan
·         perkongsian tanggungjawab, kemahiran, autoriti dan pengawalan
·         sesi komunikasi dan membuat keputusan yang berterusan membolehkan pengawalan dan kordinasi tugasan dilakukan
·         perubahan kadang-kadang amat cepat
·         kemahiran bekerja dengan orang lain perlu ada
·         kuasa berpunca daripada keupayaan untuk mempengaruhi dan memberikan dorongan
·         individu diharapkan untuk menguruskan diri mereka sendiri dan accountable dalam tugas mereka
·         pengurus bertindak sebagai energisers, penghubung dan pengupaya pasukan

B. Stress
Stres adalah suatu kondisi anda yang dinamis saat seorang individu dihadapkan pada peluang, tuntutan, atausumber daya yang terkait dengan apa yang dihasratkan oleh individu itu dan yang hasilnya dipandang tidak pasti dan penting. Stress adalah beban rohani yang melebihi kemampuan maksimum rohani itu sendiri, sehingga perbuatan kurang terkontrol secara sehat.
Stress adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental. Bentuk ketegangan ini mempengaruhi kinerja keseharian seseorang. Bahkan stress dapat membuat produktivitas menurun, rasa sakit dan gangguan-gangguan mental. Pada dasarnya, stress adalah sebuah bentuk ketegangan, baik fisik maupun mental. Sumber stress disebut dengan stressor dan ketegangan yang di akibatkan karena stress, disebut strain.
Menurut Robbins (2001) stress juga dapat diartikan sebagai suatu kondisi yang menekan keadaan psikis seseorang dalam mencapai suatu kesempatan dimana untuk mencapai kesempatan tersebut terdapat batasan atau penghalang. Dan apabila pengertian stress dikaitkan dengan penelitian ini maka stress itu sendiri adalah suatu kondisi yang mempengaruhi keadaan fisik atau psikis seseorang karena adanya tekanan dari dalam ataupun dari luar diri seseorang yang dapat mengganggu pelaksanaan kerja mereka.
Menurut Woolfolk dan Richardson (1979) menyatakan bahwa adanya system kognitif, apresiasi stress menyebabkan segala peristiwa yang terjadi disekitar kita akan dihayati sebagai suatu stress berdasarkan arti atau interprestasi yang kita berikan terhadap peristiwa tersebut, dan bukan karena peristiwa itu sendiri.Karenanya dikatakan bahwa stress adalah suatu persepsi dari ancaman atau dari suatu bayangan akan adanya ketidaksenangan yang menggerakkan, menyiagakan atau mambuat aktif organisme.
Sumber pontensial stres memberikan informasi kepada manajemen perusahaan untuk melaksanakan pendekatan individu terhadap organisasional dalam mengatasi stres. Ada dua pendekatan dalam mengatasi stres, yaitu:
a. Pendekatan individual
Seorang karyawan dapat memikul tanggung jawab pribadi untuk mengurangi tingkat stresnya. Strategi individu yang telah terbukti efektif adalah:
1. Teknik manajemen waktu
2. Meningkatkan latihan fisik
3. Pelatihan pengenduran (relaksasi)
4. Perluasan jaringan dukungan sosial
b. Pendekatan Organisasional
Beberapa faktor yang menyebabkan stres terutama tuntutan tugas dan peran, struktur organisasi dikendalikan oleh manajemen. Strategi yang digunakan:
1. Perbaikan seleksi personil dan penempatan kerja
2. Penggunaan penetapan tujuan yang realistis
3. Perancangan ulang pekerjaan
4. Peningkatan keterlibatan kerja
5. Perbaikan komunikasi organisasi
6. Penegakkan program kesejahteraan korporasi (Robbins, 2002: 311-312)

C. Konflik
Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.
Tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri. Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. Perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan Integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. Sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik.
Ada tiga teori konflik yang menonjol dalam ilmu sosial. Pertama adalah teori konflik C. Gerrtz, yaitu tentang primodialisme, kedua adalah teori konflik Karl. Marx, yaitu tentang pertentangan kelas, dan ketiga adalah teori konflik James Scott, yaitu tentang Patron Klien.
Penyebab Konflik :
·         Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.
Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya.
·         Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda.
Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik.
·         Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok.
Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda. 
·         Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat.
Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial.
Jenis – Jenis Konflik
Menurut Dahrendorf, konflik dibedakan menjadi 6 macam :
·         Konflik antara atau dalam peran sosial (intrapribadi), misalnya antara peranan-peranan dalam keluarga atau profesi (konflik peran (role))
·         Konflik antara kelompok-kelompok sosial (antar keluarga, antar geng).
·         Konflik kelompok terorganisir dan tidak terorganisir (polisi melawan massa).
·         Konflik antar satuan nasional (kampanye, perang saudara)
·         Konflik antar atau tidak antar agama
·         Konflik antar politik.
·         konflik individu dengan kelompok

D. Komunikasi Dalam Manajemen
Komunikasi merupakan sarana untuk terjalinnya hubungan antar seseorang dengan orang lain,dengan adanya komunikasi maka terjadilah hubungan sosial, karena bahwa manusia itu adalah sebagaimakluk social, di antara yang dengan yang lainnya saling membutuhkan, sehingga terjadinya interaksiyang timbalk balik.Dalam hubungan seseorang dengan orang lain tentunya terjadinya proses komunikasi itu tentunya tidakterlepas dari tujuan yang menjadi topik atau pokok pembahasan, dan juga untuk tercapainya prosespenyampaian informasi itu akan berhasil apabila ditunjang dengan alat atau media sebagai saranapenyaluran informasi atau berita.
Komunikasi dalam manajemen diibaratkan sebagai “minyak pelumas” bahkan GR. Terry mengatakan bahwa management is communications. Dari pendapat tersebut terlihat betapa pentingnya peran komunikasi dalam kegiatan manajemen.
GR. Terry mengemukakan bahwa dalam suatu kegiatan manajemen terdapat lima bentuk komunikasi, antara lain:
  1. Komunikasi formal. Biasanya terjadi dalam jalus komunikasi formal, memiliki wewenang dan tanggung jawab yaitu melalui instruksi-instruksi bentuk lisan dan tulisan sesuai dengan prosedur secara fungsional yang berlaku dari arus atasan ke bawahan atau sebaliknya.
  2. Komunikasi non-formal, yaitu di luar komunikasi formal, terjadi secara spontan. Misalnya Sumbang saran yang berkaitan dengan tugas, kewajiban. Efektif digunakan dalam perusahaan yang bersifat padat karya dengan jumlah pekerja cukup banyak, dan tidak terlalu teknis.
  3. Komunikasi informal. Seperti halnya komunikasi non formal namun lebih menekankan pada aspek human relations-nya. Atau dengan kata lain digunakan dalam permasalahan di luar pekerjaan secara langsung.
  4. Komunikasi teknis. Biasanya hanya dilakukan dan dimengerti oleh orang-orang tertentu saja yang berkaitan dengan kegiatan tersebut.
  5. Komunikasi prosedural. Biasanya dekat dengan komunikasi formal, diwujudkan misalnya dalam bentuk pemberian laporan tahuan/bulanan, instruksi tertulis, memo dan lain-lain.
Sementara Onong U Effendy mengelompokkan komunikasi dalam manajemen menjadi tiga dimensi, yaitu:
  1. Komunikasi vertikal, yaitu arus komunikasi dua arah timbal balik dalam melaksanakan fungsi-fungsi manajemen, bisa dari atas ke bawah (downward communication) dan bisa dari bawah ke atas(upward communication).
  2. Komunikasi horizontal, merupakan komunikasi satu level yang terjadi antara satu karyawan dengan karyawan lainnya atau pimpinan satu departemen dengan departemen lainnya dalam satu tingkatan dan lain sebagainya.
  3. Komunikasi eksternal, Berlangsung secara dua arah antara pihak organisasi/lembaga dengan pihak luar.
  4. Komunikasi yang terjadi dalam suatu organisasi ditentukan oleh kebijakan dan arus informasi yang ada dalam organisasi tersebut. Arus informasi akan membentuk pola-pola hubungan atau jaringan komunikasi.
Menurut Stephen P. Robbins pada umumnya dikenal lima model jaringan komunikasi yaitu sebagai berikut:
a)  Model Rantai (chain)
Dalam model jaringan komunikasi ini, hanya dikenal komunikasi sistem arus ke atas (upward) dan ke bawah (downward). Model ini hanya memungkinkan adanya hubungan garis langsung (komando) tanpa adanya suatu penyimpangan. Model ini banyak dianut dalam organisasi militer, masalah laporan keuangan, pembayaran gaji dan lain-lain.
b)  Model Roda (wheel)
Sistem jaringan komunikasi, disini semua laporan, instruksi perintah kerja dan kepengawasan terpusat satu orang yang memimpin empat bawahan atau lebih dan antara bawahan tidak terjadi interaksi (komunikasi sesamanya).
c) Model Lingkaran (circle)
Pada model komunikasi ini semua anggota/staff bisa berinteraksi pada setiap tiga tingkatan hirarkinyatetapi tanpa ada kelanjutannya pada tingkat yang lebih tinggi, dan hanya terbatas pada setiap levelnya.
d) Model saluran bebas (all-channel)
Model ini adalah pengembangan dari model lingkaran, dimana semua tiga level tersebut dapat melakukan interaksi secara timbal balik tanpa menganut siapa yang menjadi tokoh sentarlnya.
e) Model huruf “Y”
Model ini tidak jauh berbeda dengan model rantai, hanya saja terdapat empat level jenjang hirarki, satu supervisor memiliki dua atasan dan dua bawahan.

Sumber :



POAC

Manajemen merupakan kumpulan dari kegiatan – kegiatan atau fungsi – fungsi yang satu sama lainberkaitan dan merupakan urutan – urutan yang sistematis dari awal sampai akhir. Kegiatan – kegiatan utama yang umum dalam proses manajemen sebuah organisasi yang sudah ada biasanya terdiri dari 4 kegiatan atau fungsi utama yang disingkat dengan POAC (Planning, Organizing, Actuating / activating dan Controlling).

A. Planning (Pembuatan Rencana Kerja)

Alasan perlunya perencanaan dikarenakan seorang perencana tidak dapat mengendalikan waktu yang akan datang karena tidak jelas kepastiannya, tetapi harus tetap berusaha untuk mengidentifikasika kegiatan – kegiatan sekarang serta mengevaluasi hasilnya agar dapat memperkirakan keadaan pada waktu yang akan datang. Dalam tahap pembuatan rencana, baik rencana strategis maupun rencana operasional pimpinan organisasi harus menetapkan; apa yang harus dikerjakan, kapan harus dimulai dan selesai, dimana harus dikerjakan dan siapa yang harus mengerjakan.
Planning disini maksudnya adalah membuat perencanaan mengenai target atau tujuan yang akan dicapai. Disamping itu, perencanaan merupakan suatu rumusan dari persoalan – persoalan yang terkait dengan pekerjaan yang akan dilaksanakan, termasuk didalamnya persiapan untuk membuat tindakan – tindakan administrasi. Perencanaan tersebut tidak harus tertulis karena mungkin masih dalam bentuk pemikiran.
1. TIpe – Tipe Perencanaan
a.       Bidang Fungsional
Mencakup rencana produksi, pemasaran, keuangan, dan personalia. Setiap faktor memerlukan tipe perencanaan yang berbeda, misalnya : rencana produksi akan meliputi perencanaan kebutuhan bahan, scheduling produksi, jadwal pemeliharaan mesin. Sedang rencana pemasaran berisi target penjualan, program promosi dan sebagainya.
b.      Tingkatan Organisasi
Keseluruhan organisasi atau satuan – satuan kerja organisasi. Teknik – teknik dan isi perencanaan berbeda untuk tingkatan yang berbeda pula. Perencanaan organisasi keseluruhan akan lebih kompleks daripada perencanaan suatu satuan kerja organisasi.

c.       Karakteristik Rencana
Meliputi faktor – faktor komlpeksitas, fleksibilitas, keformalan, kerahasiaan, biaya, rasionalitas, kuantitatif dan kualitatif, misalnya; rencana pengembangan produk biasa bersifat rahasia; rencana produksi lebih bersifat kuantitatif disbanding rencana personalia.
d.      Waktu
Menyangkut rencana jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Semakin lama rentangan waktu antara prediksi dan kejadian nyata, kemungkinan terjadinya kesalahan semakin besar. Missal; tingkat kepastian rencana pembangunan pabrik baru 10 tahun yang akan datang lebih rendah dibanding rencana untuk pindah kantor 2 minggu lagi.
e.       Unsur – unsur Rencana
Dalam wujud antara lain : anggaran, program, prosedur, kebijakan. Perencanaan meliputi berbagai tingkatan dan setiap tingkatan merupakan bagian dari tingkatan yang lebih tinggi. Perencanaan harus berhubungan dengan kegiatan – kegiatan yang dilaksanakan seperti program pengiklanan, prosedur seleksi personalia, anggaran penelitian dan pengembangan.

B. Organizing (Pengorganisasian)
Perorganisasian adalah suatu proses untuk merancang struktur formal, mengelompokan dan mengatur serta membagi tugas pekerjaan kepada anggota organisasi, agar tujuan organisasi dapat dicapai secara efektif dan efisien. Organisasi adalah suatu sistem usaha kerjasama sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama.
Setelah ada perencanaan, hal yang perlu dilakukan selanjutnya adalah pengaturan dan penentuan tentang tugas atau pekerjaan/pengorganisasian, termasuk penentuan orang yang akan melaksanakan pekerjaan; alat – alat yang dipakai; modal; serta fasilitas – fasilitasnya. Sebagai fungsi pengorganisasian, perlu adanya pembagian tugas yang disesuaikan dengan macam maupun sifat tugasnya sehingga dapat diperoleh petugas – petugas yang cakap.
Dalam tahap ini seorang manajer harus membagi – bagi tugas, tanggung jawab, dan wewenang yang diperlukan kepada anggota kelompok yang dipercayainya akan mampu dan mau mengemban tanggung jawab tersebut. Kegiatan ini sama seperti yang dilakukan seorang Presiden yang baru terpilih dalam proses penyusunan kabinetnya.
            1. Prinsip-prinsip atau azas-azas organisasi, antara lain:
a.       perumusan tujuan dengan jelas
b.      pembagian kerja
c.       pelimpahan wewenang
d.      rentang pengawasan/ kendali
e.       akordion (mengembang dan mengempis)
f.       kesatuan perintah atau komando dan penanggung jawab
g.      koordinasi
2. Menurut Manullang (dalam buku Pengantar Manajemen ) ada 3 ciri organisasi,  
    yaitu :
a.       adanya sekelompok orang
b.      antar hubungan terjadi dalam suatu kerjasama yang harmonis
c.       kerjasama didasarkan atas hak, kewajiban atau tanggung jawab masing-masing orang untuk mencapai tujuan.
3. Unsur-unsur organisasi
a.       adanya sekelompok orang
b.      sekelompok orang itu bekerja sama
c.       adanya tujuan bersama
4. Dalam dunia organisasi terdapat 3 bentuk struktur organisasi, yaitu:
a.       struktur organisasi fungsional
b.      struktur organisasi produk / pasar
c.       struktur organisasi matriks

C. Actuating (Penggerakkan)
Usai melakukan pengorganisasian, segala sesuatunya perlu digerakan. Hal ini untuk menyelesaikan tugas demi tercapainya tujuan yang telah direncakan atau yang ditentukan. Fungsi ini menunjukkan bahwa seorang manajer harus mengarahkan dan mempengaruhi bawahan mereka dan mengusahakan agar orang lain melaksanakan tugas – tugas yang perlu. Mereka membantu bawahan mereka untuk berprestasi dengan baik dengan cara menciptakan suasana dengan lingkungan kerja yang mendukung.
Tujuannya adalah menciptakan kerjasama yang lebih efisien, mengembangkan kemampuan dan keterampilan staf, menumbuhkan rasa memiliki dan meyukai pekerjaan, mengusahakan suasana lingkungan kerja yang meningkatkan motivasi dan prestasi kerja staf, dan membuat organisasi berkembang secara dinamis. 

D. Controling (Pengendalian/Pengawasan)
Adanya rencana yang telah diatur dan digerakan, belum tentu menjamin tujuan yang diinginkan bias tercapai dengan sendirinya karena masih perlu adanya pengendalian/control terhadap para pekerja. Dengan demikian, mereka bekerja sesuai dengan posisinya dan dengan cara yang sesuai. Fungsi ini menegaskan bahwa para manajer harus berusaha menjamin bahwa organisasi tersebut bergerak kearah tujuannya.
Di dalam kegiatan Controlling seharusnya tercakup kegiatan yang mengevaluasi dan menilai hasil kerja. Fungsi ini menunjukan bahwa kinerja manajemen secara keseluruhan dan kinerja para manajer sebagai perorangan harus dievaluasi atau dinilai secara periodik.
                        1. Fungsi Controling :
a.       menentukan apakah rencana awal perlu direvisi
b.      melihat hasil dari kinerja selama ini
c.       jika dirasa butuh ada perubahan, maka seorang manajer akan kembali pada proses planning
2. Kegiatan dalam fungsi pengawasan dan pengendalian :
a.       mengevaluasi keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan target bisnis sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan
b.      mengambil langkah klarifikasi dan koreksi atas penyimpangan yang mungkin ditemukan

c.       melakukan berbagai alternatif solusi atas berbagai masalah yang terkait dengan pencapaian tujuan dan target bisnis

Contoh Kasus
Lapindo Brantas Inc. adalah salah satu perusahaan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang ditunjuk BPMIGAS untuk melakukan proses pengeboran minyak dan gas bumi di Indonesia. Kegiatan yang dilakukan oleh PT Lapindo Brantas waktu itu adalah pengeboran sumur Banjar Panji-1 (BPJ-1) pada awal maret 2006. Dugaan atas meluapnya lumpur tersebut kepada PT Lapindo Brantas adalah kurang telitinya PT Lapindo dalam melakukan pengeboran sumur.Hal tersebut sudah tampak ketika rancangan pengeboran akhirnya tidak sesuai dengan yang ada dilapangan. Rancangan pengeboran adalah sumur akan dibor dengan kedalaman 8500 kaki (2590 meter) untuk bisa mencapai batu gamping. Lalu sumur tersebut dipasang casing  yang bervariasi sesuai dengan kedalaman sebelum mencapai batu gamping.
Diperkirakan bahwa Lapindo, sejak awal merencanakan kegiatan pengeboran ini dengan membuat  prognosis pengeboran yang salah. Mereka membuat prognosis dengan mengasumsikan zona pengeboran mereka di zona Rembang dengan target pengeborannya adalah formasi Kujung. Padahal mereka membor di zona Kendeng yang tidak ada formasi Kujung-nya. Alhasil, mereka merencanakan memasang cassing setelah menyentuh target yaitu batu gamping formasi Kujung yang sebenarnya tidak ada. Selama mengebor mereka tidak meng-casing lubang karena kegiatan pemboran masih berlangsung. Selama pemboran, lumpur overpressure (bertekanan tinggi) dari formasi Pucangan sudah berusaha menerobos (blow out) tetapi dapat diatasi dengan pompa lumpur Lapindo. Setelah kedalaman 9.297 kaki, akhirnya mata bor menyentuh batu gamping. Lapindo mengira target formasi Kujung sudah tercapai, padahal mereka hanya menyentuh formasi Klitik. Batu gamping formasi Klitik sangat porous (berlubang-lubang). Akibatnya lumpur yang digunakan untuk melawan lumpur formasi Pucangan hilang (masuk ke lubang di batu gamping formasi Klitik) atau circulation loss sehingga Lapindo kehilangan/kehabisan lumpur di permukaan. 
Kaitan masalah dengan POAC terdapat pada bagian Planning
Pada bagian Planning, dari masalah yang dibahas yaitu :
1. Prognosis (ramalan peristiwa yang akan terjadi) yang salah
2.Perencanaan titik kedalaman pengeboran yang salah

3.Rencana pemasangan cassing saat pengeboran
Akibat kesalahan dalam perencanaan pengeboran, lumpur yang mengandung tekanan gas tinggi meluap ke permukaan dan mengakibatkan munculnya sumber titik baru. 
  Sumber :
Ruky, A. S. (2002). Sukses sebagai manajer profesional tanpa gelar MM atau MBA. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Sarinah Sihombing, Muljadi. (2013). Pengantar manajemen. Jakarta: Penerbit Mitra Wacana Media.
 https://id.wikipedia.org/wiki/Banjir_lumpur_panas_Sidoarjo