Judul : Hubungan Interpersonal & Cinta dan
Perkawinan
Tugas : III
Nama
: Indah Purnama
Kelas :
2PA13
NPM :
14513361
1. HUBUNGAN INTERPERSONAL
Menurut Pearson (1983) manusia adalah makhluk sosial.
Artinya kita tidak mungkin menjalin hubungan dengan diri sendiri, kita selalu
menjalin hubungan dengan orang lain. Mencoba untuk mengenali dan memahami kebutuhan
satu sama lain, membentuk interaksi, serta berusaha mempertahankan interaksi
tersebut. Hubungan interpersonal (antarpribadi) adalah hubungan yang terdiri
atas dua orang atau lebih, yang memiliki ketergantungan satu sama lain dan
menggunakan pola interaksi yang konsisten. Ketika akan menjalin hubungan
interpersonal, akan terdapat suatu proses dan biasanya dimulai dengan
interpersonal attraction.
Hubungan interpersonal
adalah dimana ketika kita berkomunikasi, kita bukan sekedar menyampaikan isi pesan,
tetapi juga menentukan kadar hubungan interpersonalnya. Jadi ketika kita
berkomunikasi kita tidak hanya menentukan content melainkan juga
menentukan relationship.
A. Model – Model Hubungan
Interpersonal
Hubungan interpersonal mempunyai 4
model yang diantaranya meliputi :
1.
Model pertukaran sosial (social exchange model).
Hubungan
interpersonal diidentikan dengan suatu transaksi dagang. Orang berinteraksi
karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya. Artinya dalam hubungan
tersebut akan menghasilkan ganjaran (akibat positif) atau biaya (akibat
negatif) serta hasil / laba (ganjaran dikurangi biaya).
2.
Model peranan (role model).
Hubungan interpersonal diartikan sebagai panggung
sandiwara. Disini setiap orang memainkan peranannya sesuai naskah yang dibuat
masyarakat. Hubungan akan dianggap baik bila individu bertindak sesuai
ekspetasi peranan (role expectation), tuntutan peranan (role demands), memiliki
ketrampilan (role skills) dan terhindar dari konflik peranan. Ekspetasi peranan
mengacu pada kewajiban, tugas dan yang berkaitan dengan posisi tertentu, sedang
tuntutan peranan adalah desakan sosial akan peran yang harus dijalankan. Sementara itu
ketrampilan peranan adalah kemampuan memainkan peranan tertentu.
3.
Model permainan
(games people play model).
Model ini
berasal dari psikiater Erie Berne (19964, 1972). Analisisnya kemudian dikenal
sebagai analisis transaksional. Dalam model ini, orang-orang berhubungan dalam
bermacam-macam permainan. Mendasari permainan ini adalah tiga bagian kepribadian
manusia yaitu:
a. Orang tua (parent), adalah aspek
kepribadian yang merupakan asumsi dan perilaku yang kita terima dari
orang tua kita atau orang yang kita anggap orang tua kita.
b. Orang dewasa (adult), adalah
bagian kepribadian yang mengolah informasi secara rasional.
c. Anak (child), adalah unsur
kepribadian yang diambil dari perasaan dan pengalaman kanak-kanak dan
mengandung potensi intuisi, spontanitas, kreativitas, dan kesenangan.
4.
Model Interaksional (interacsional model).
Model ini memandang hubungan
interpersonal sebagai suatu sistem. Setiap sistem memiliki sifat struktural,
integratif, dan medan. Semua sistem, terdiri atas subsistem-subsistem yang
saling bergantung dan bertindak bersama sabagai satu kesatuan. Setiap hubungan
interpersonal harus dilihat dari tujuan bersama, metode komunikasi, ekspektasi
dan pelaksanaan peranan, serta permainan yang dilakukan
B. Memulai Hubungan Interpersonal
Dalam melakukan hubungan interpersonal, ada tiga faktor yang
mempengaruhi penilaian atau ketertarikan interpersonal (interpersonal
attraction), yaitu faktor internal, eksternal, dan interaksi
1.
Faktor Internal
Faktor internal (dari dalam diri kita) meliputi dua hal,
yaitu kebutuhan untuk berinteraksi (need for affiliation) dan pengaruh
perasaan.
Ø Kebutuhan untuk berinteraksi (need
for affiliation)
Kadang kita ingin berinteraksi dengan orang lain, namun
kadang kita memilih untuk seorang diri. Menurut McClelland, kebutuhan
berinteraksi adalah suatu keadaan di mana seseorang berusaha untuk mempertahankan
suatu hubungan, bergabung dalam kelompok, berpartisipasi dalam kegiatan,
menikmati aktivitas bersama keluarga atau teman, menunjukkan perilaku
saling bekerja sama, saling mendukung, dan konformitas.
Ø Pengaruh Perasaan
Sebuah
penemuan (dalam Baron & Byrne, 2008) menunjukkan bahwa orang asing akan
lebih menyukai jika kita mengucapkan kalimat positif, umpamanya “Kamu memiliki
anjing yang bagus” dibandingkan kalimat negatif “Dimanakah kamu menemukan
anjing yang buruk itu?”
2.
Faktor Eksternal
Faktor eksternal yang mempengaruhi dimulainya suatu hubungan
interpersonal adalah faktor kedekatan (proximity) dan daya tarik fisik.
Ø Faktor Kedekatan (proximity)
Orang
Jawa bilang, “witing tresno jalaran soko nglibet eh kulino” yang maknanya,
“ketika kita sering bertemu dengan orang di sekitar kita, maka kita akan
terbiasa melihat orang tersebut dan memungkinkan kita untuk menjadi lebih
dekat, dan akhirnya saling jatuh cinta.”
Menurut
Miller & Perlman (2009), kita cenderung menyukai orang yang wajahnya biasa
kita kenali dibandingkan dengan orang yang wajahnya tidak kita kenal.
Ø Daya Tarik Fisik
Dalam
hubungan interpersonal, orang cenderung memilih berinteraksi dengan orang yang
menarik dibandingkan dengan orang yang tidak atau kurang menarik, karena orang
yang menarik memiliki karakteristik lebih positif. Pengalaman menunjukkan bahwa
tidak semua orang yang memiliki daya tarik fisik memiliki kepribadian seperti
yang kita perkirakan.
Ada
pula tahap dalam memulai hubungan, yaitu :
1.
Pembentukan
Tahap
ini sering disebut juga dengan tahap perkenalan. Beberapa peneliti telah
menemukan hal-hal menarik dari proses perkenalan. Fase pertama, “fase kontak
yang permulaan”, ditandai oleh usaha kedua belah pihak untuk menangkap
informasi dari reaksi kawannya. Masing-masing pihak berusaha menggali
secepatnya identitas, sikap dan nilai pihak yang lain. Bila mereka merasa ada
kesamaan, mulailah dilakukan proses mengungkapkan diri. Pada tahap ini
informasi yang dicari meliputi data demografis, usia, pekerjaan, tempat
tinggal, keadaan keluarga dan sebagainya.
2.
Peneguhan Hubungan
Hubungan
interpersonal tidaklah bersifat statis, tetapi selalu berubah. Untuk memelihara
dan memperteguh hubungan interpersonal, diperlukan tindakan-tindakan tertentu
untuk mengembalikan keseimbangan. Ada empat faktor penting dalam memelihara
keseimbangan ini, yaitu:
a. Keakraban
(pemenuhan kebutuhan akan kasih sayang antara komunikan dan komunikator).
b. Kontrol
(kesepakatan antara kedua belah pihak yang melakukan komunikasi dan menentukan
siapakah yang lebih dominan didalam komunikasi tersebut).
c. Respon
yang tepat (feedback atau umpan balik yang akan terima jangan sampai
komunikator salah memberikan informasi sehingga komunikan tidak mampu
memberikan feedback yang tepat).
d. Nada
emosional yang tepat (keserasian suasana emosi saat komunikasi sedang
berlangsung).
C.
Hubungan Peran
Dalam
suatu hubungan juga perlu adanya companionate love, passionate love dan
intimacy love. Karena apabila kurang salah satu saja di dalam suatu hubungan
atau mungkin hanya salah satu di antara ketiganya itu di dalam suatu hubungan
maka yang akan terjadi adalah hubungan tersebut tidak akan berjalan dengan
langgeng atau awet, justru sebaliknya setiap pasangan tidak merasakan
kenyamanan dari pasangannya tersebut sehingga yang terjadi adalah hubungan
tersebut bubar dan tidak akan ada lagi harapan untuk membangun hubungan yang
harmonis dan langgeng.
2.
Cinta dan Perkawinan
A.
Memilih Pasangan
Banyak
orang yang pikirannya terlalu pendek dalam hal memilih pasangan sehingga gagal
dalam pernikahannya. Prinsipnya adalah jika hanya berpedoman pada hal-hal yang
sifatnya duniawi (kecantikan atau ketampanan dan kekayaan) maka akan sangat
sulit dalam menjalani hari-hari berumah tangga nantinya. Karena semua itu hanya
bersifat sementara dan sangat mudah berubah. Jika jatuh cinta hanya karena
melihat dari segi kecantikan atau ketampanan dan kekayaan, maka cinta tersebut
akan sangat mudah berkurang bahkan hilang. Jika memang cinta pada seseorang
maka lahirlah ketampanan atau kecantikan, bukan sebaliknya. Masalah fisik,
banyak yang berkata bahwa wanita cantik hanya pantas untuk laki-laki tampan,
begitu pula sebaliknya. Dan apa yang terjadi ketika teman kita yang mungkin tak
begitu cantik mendapatkan suami yang tampan dan juga kaya, maka kita biasanya
akan protes. Kita merasa bahwa dirinya tak pantas dan kitalah yang lebih
pantas. Dalam memilih pasangan hidup, baik bagi laki-laki maupun perempuan
keduanya memiliki hak untuk memilih yang paling tepat sebagai pasangannya. Maka
dari itu harus benar-benar diperhitungkan ketika memilih pasangan yang baik.
B.
Hubungan dalam Perkawinan
1.
Romantic Love
Saat
ini adalah saat Anda dan pasangan merasakan gelora cinta yang menggebu-gebu.
Ini terjadi di saat bulan madu pernikahan. Anda dan pasangan pada tahap ini
selalu melakukan kegiatan bersama-sama dalam situasi romantis dan penuh cinta.
2.
Dissapointment or Distress
Di
tahap ini pasangan suami istri kerap saling menyalahkan, memiliki rasa marah
dan kecewa pada pasangan, berusaha menang atau lebih benar dari pasangannya.
Terkadang salah satu dari pasangan yang mengalami hal ini berusaha untuk
mengalihkan perasaan stres yang memuncak dengan menjalin hubungan dengan orang
lain, mencurahkan perhatian ke pekerjaan, anak atau hal lain sepanjang sesuai
dengan minat dan kebutuhan masing-masing. Menurut Dawn tahapan ini bisa membawa
pasangan suami-istri ke situasi yang tak tertahankan lagi terhadap hubungan
dengan pasangannya. Banyak pasangan di tahap ini memilih berpisah dengan
pasangannya.
3.
Knowledge and Awareness
Pasangan
suami istri yang sampai pada tahap ini akan lebih memahami bagaimana posisi dan
diri pasangannya. Pasangan ini juga sibuk menggali informasi tentang bagaimana
kebahagiaan pernikahan itu terjadi. Pasangan yang sampai di tahap ini biasanya
senang untuk meminta kiat-kiat kebahagiaan rumah tangga kepada pasangan lain
yang lebih tua atau mengikuti seminar-seminar dan konsultasi perkawinan.
4.
Transformation
Suami
istri di tahap ini akan mencoba tingkah laku yang berkenan di hati pasangannya.
Anda akan membuktikan untuk menjadi pasangan yang tepat bagi pasangan Anda.
Dalam tahap ini sudah berkembang sebuah pemahaman yang menyeluruh antara Anda
dan pasangan dalam mensikapi perbedaan yang terjadi. Saat itu, Anda dan
pasangan akan saling menunjukkan penghargaan, empati dan ketulusan untuk
mengembangkan kehidupan perkawinan yang nyaman dan tentram.
5.
Real Love
“Anda
berdua akan kembali dipenuhi dengan keceriaan, kemesraan, keintiman,
kebahagiaan, dan kebersamaan dengan pasangan,” ujar Dawn. Psikoterapis ini
menjelaskan pula bahwa waktu yang dimiliki oleh pasangan suami istri seolah
digunakan untuk saling memberikan perhatian satu sama lain. Suami dan istri
semakin menghayati cinta kasih pasangannya sebagai realitas yang menetap. “Real
love sangatlah mungkin untuk Anda dan pasangan jika Anda berdua memiliki
keinginan untuk mewujudkannya. Real love tidak bisa terjadi dengan sendirinya
tanpa adanya usaha Anda berdua,” ingat Dawn.
C.
Penyesuaian dan Pertumbuhan dalam Perkawinan
Perkawinan
tidak berarti mengikat pasangan sepenuhnya. Dua individu ini harus dapat
mengembangkan diri untuk kemajuan bersama. Keberhasilan dalam perkawinan tidak
diukur dari ketergantungan pasangan. Perkawinan merupakan salah satu tahapan
dalam hidup yang pasti diwarnai oleh perubahan. Dan perubahan yang terjadi
dalam sebuah perkawinan, sering tak sederhana. Perubahan yang terjadi dalam
perkawinan banyak terkait dengan terbentuknya relasi baru sebagai satu kesatuan
serta terbentuknya hubungan antarkeluarga kedua pihak. Relasi yang diharapkan
dalam sebuah perkawinan tentu saja relasi yang erat dan hangat. Tapi karena
adanya perbedaan kebiasaan atau persepsi antara suami-istri, selalu ada hal-hal
yang dapat menimbulkan konflik. Dalam kondisi perkawinan seperti ini, tentu
sulit mendapatkan sebuah keluarga yang harmonis.
D.
Perceraian dan Pernikahan Kembali
Pernikahan
bukanlah akhir kisah indah bak dongeng cinderella, namun dalam perjalanannya,
pernikahan justru banyak menemui masalah. Menikah Kembali setelah perceraian
mungkin menjadi keputusan yang membingungkan untuk diambil. Karena orang akan
mencoba untuk menghindari semua kesalahan yang terjadi dalam perkawinan
sebelumnya dan mereka tidak yakin mereka bisa memperbaiki masalah yang dialami.
Mereka biasanya kurang percaya dalam diri mereka untuk memimpin pernikahan yang
berhasil karena kegagalan lama menghantui mereka dan membuat mereka ragu-ragu
untuk mengambil keputusan. Sebagai manusia, kita memang mempunyai daya tarik
atau daya ketertarikan yang tinggi terhadap hal-hal yang baru. Jadi, semua hal
yang telah kita miliki dan nikmati untuk suatu periode tertentu akan kehilangan
daya tariknya. Misalnya, Anda mencintai pria yang sekarang menjadi pasangan
karena kegantengan, kelembutan dan tanggung jawabnya. Lama-kelamaan, semua itu
berubah menjadi sesuatu yang biasa. Itu adalah kodrat manusia. Sesuatu yang
baru cenderung mempunyai daya tarik yang lebih kuat dan kalau sudah terbiasa
daya tarik itu akan mulai menghilang pula. Esensi dalam pernikahan adalah
menyatukan dua manusia yang berbeda latar belakang. Untuk itu kesamaan
pandangan dalam kehidupan lebih penting untuk diusahakan bersama. Jika ingin
sukses dalam pernikahan baru, perlu menyadari tentang beberapa hal tertentu,
jangan biarkan kegagalan masa lalu mengecilkan hati, menikah Kembali setelah
perceraian bisa menjadi kan pengalaman, tinggalkan masa lalu dan berharap untuk
masa depan yang lebih baik lagi dari pernikahan sebelumnya.
E.
Alternatif selain Pernikahan
Hidup
di dalam kesendirian memang tidak mudah untuk dijalani. Namun ini adalah suatu
pilihan yang diambil di kala orang sudah putus asa untuk membina suatu hubungan
perkawinan. Misalnya seorang wanita yang sudah lebih dari satu kali menikah dan
gagal. Akhirnya ia memutuskan untuk tidak bersuami dan mengurus anak – anaknya
sendiri. Ia merasa mampu karena ia pun seorang wanita karir yang memiliki penghasilan
yang cukup. Namun meskipun demikian, seseorang yang menjalani single life pasti
mengalami loneliness atau rasa kesepian. Terlebih ketika ia sudah lanjut usia
dan anak – anaknya sudah berkeluarga.
Daftar
Pustaka:
Wirawan,
Sarlito S. 2002. Individu dan teori-teori psikologi social. Jakarta: Balai
Pustaka
No comments:
Post a Comment